Langsung ke konten utama

Ketika Guru Dijadikan Bermental Pegawai

Mental seseorang terbangun dari pekerjaan atau statusnya sehari-hari. Seorang petani akan bermental petani. Sehari-hari oleh karena pekerjaannya adalah mengurus tanaman yang harus serba menunggu, yaitu menunggu musim tanam, menyiangi, waktu memupuk, memanen, maka akan berbeda dengan profesi lain misalnya berdagang. Pekerjaan seorang pedagang penuh dengan kompetisi, yaitu mulai dari mencari dan memilih  dagangan, menjual, dan kemudian mencari dagangan lagi. Antara mental petani dan pedagang menjadi berbeda.

Lain lagi adalah mental pegawai. Oleh karena pekerjaan mereka sehari-hari  harus menyesuaikan dengan petunjuk orang lain, ialah para atasannya, maka mereka akan selalu menunggu perintah. Hasil dari apa yang dikerjakan tidak dirasakan sebagai miliknya sendiri.  Mereka merasa hanya sebagai pekerja. Bagi mereka yang penting adalah sudah bekerja sesuai dengan SOP yang dibebankan. Prestasi mereka diukur dari target atau ukuran tertentu, dan biasanya hanya dilihat dari sisi fisiknya. Sementara itu, aspek substansinya  tidak selalu menjadi perhatian.

Mental pegawai sebagaimana digambarkan tersebut adalah dianggap lazim, karena mereka bekerja di pabrik atau di perusahaan,  yang hanya bersentuhan  dengan barang mati. Jenis pekerjaan mereka bisa diatur dan dijalankan secara mekanis. Ukuran-ukuran keberhasilan atas jenis pekerjaan itu juga  bisa dihitung dengan angka  atau dengan ukuran tertentu. Tetapi hal itu akan berbeda jika yang dikerjakan terkait dengan orang, seorang guru misalnya. Pekerjaan para guru tidak bisa ditarget, misalnya sehari bisa memintarkan atau menjadikan orang baik dalam jumlah tertentu.

Sekedar mengajarkan bahan pelajaran tertentu dalam waktu tertentu, bagi seorang guru  mungkin  saja  hasilnya masih bisa dihitung atau dikuantifikasikan, sekalipun juga tidak menjamin bahwa hal itu   benar-benar sebagaimana yang diinginkan. Pekerjaan guru sangat berbeda dari pekerjaan pegawai atau apalagi sebagai buruh di pabrik atau di perusahaan. Pekerjaan guru selain mengajar seharusnya adalah sekaligus sebagai pemimpin, yaitu memimpin para muridnya belajar agar kelak  menjadi orang pintar, cerdas, berwawasan luas,  dan juga sebagai orang baik. Sebaliknya manakala guru dilihat sekedar sebagai  pegawai atau buruh, maka mental guru akan berubah menjadi bermental pegawai dimaksud.

Jika pegawai atau buruh harus diawasi secara ketat,  harus melapor tentang pencapaian target yang dikerjakan,  mementingkan aspek fisik dibanding substansi yang seharusnya dikerjakan, maka guru yang dianggap sebagai pegawai atau buruh juga akan melakukan hal itu. Akhirnya guru yang diperlakukan sebagai pegawai atau buruh akan bermental  pegawai dan buruh pula. Mereka bekerja hanya atas dasar petunjuk atasan. Selain itu kreatifitas mereka   menjadi tidak tumbuh sebagaimana dituntut sebagai orang yang bermental guru.  Manakala guru bermental pegawai, maka orientasi mereka juga  bekerja  sekedar untuk memenuhi laporan, target, dan perintah, bahkan bisa jadi hanya sebatas formalitas.

Mental guru sebagai pemimpin seharusnya ditumbuhkan secara terus menerus. Sebagai pemimpin harus diberi ruang untuk berkreasi, kepercayaan, kemandirian, kebebasan yang bertanggung jawab. Sebagai pemimpin, guru  tidak perlu terlalu diatur hingga detail. Lagi-lagi, guru juga bukan mandor. Guru sebagai pemimpin di sekolah harus menjadi tauladan, inspirator, dan bagian dari lingkungan yang mempengaruhi terhadap para  siswanya. Selain itu, guru juga bukan sebagai mandor terhadap kerja para siswanya di dalam belajar.

Manakala guru diperlakukan sebagai pegawai dan apalagi buruh, maka resikonya amat tinggi. Mereka hanya akan mengerjakan pekerjaannya sebatas formalitas, mekanis,  dan tidak terlalu merasa bertanggung jawab. Bagi guru yang bermental pegawai, maka pada pikirannya tergambar bahwa yang terpenting adalah telah mengerjakan tugas  sesuai dengan petunjuk,  target,  buku pedoman,  kurikulum dan sejenisnya. Jika gambaran tersebut  itu yang benar-benar terjadi maka sekolah atau lembaga pendidikan sebenarnya  telah kehilangan jiwa atau ruhnya. Sekolah telah berubah menjadi pabrik atau perusahaan. Padahal siapa saja tidak akan mau menyamakan antara keduanya. Wallahu a’lam


IMAM SUPRAYOGO·10 APRIL 2016

Komentar

Postingan populer dari blog ini

cerita pagi ini

hai semua, selamat malam,,,,.. pagi tadi satu pelajaran indah telah aku sampaikan ke anak didiku, indahnya ini bukan ada kaitan dengan mata pelajaran yang aku ampu tapi suatu langkah awal mendidik generasi bangsa untuk cinta akan indahnya alam atau lingkungan kita, niatanku mengajak mereka tidak lain adalah untuk mengawali dalam melestarikan lingkungn dengan menerapkan pondasi akan cinta pada lingkungan dan sasaranya adalah anak remaja yang nantinya akan memimpin negeri ini.  mendidik generasi muda dengan hal yang positif adalah permulaan untuk memulai hidup lebih nyman di bumi ini, dengan adanya pembelajaran untuk menjawa lingkungan dan mendidik anak akan kecintaan pada tumbuhan itu adalah langkah awal para pendidik, agar nantinya output mereka bisa meminimalisir terjadinya kerusakan lingkungan, nah ini para sahabat blogger adalah cerita saya hari ini dalam melestarikan lingkungan dan selanjutnya saya tunggu bagaimna anda sekalian dalam mendidik generasi muda untuk cinta aka...
Mengapa Anda Tidak Perlu Khawatir Dengan Kegagalan? Oleh: (Kh. Hamid Wahid) Jika anda pernah mencoba sesuatu hal yang baru dan gagal, saya yakin bahwa anda adalah seseorang yang enak untuk saya ajak bicara dibanding dengan orang-orang yang merasa semuanya lancar-lancar atau baik-baik saja. Orang-orang seperti itu menurut saya, tidak pernah mencoba sesuatu hal yang baru. Namun anda adalah seseorang yang berbeda …… lho dari mana saya tahu? …. Karena anda berkunjung ke blog saya dan membaca artikel-artikel saya ini, yang berarti anda ingin merubah kehidupan anda menjadi lebih baik dari saat ini. Anda ingin mencari sesuatu hal yang baru yang dapat anda terapkan di kehidupan anda. Anda mempunyai semangat dan saya yakin anda juga mempunyai pengalaman hidup yang luar biasa. Mungkin sudah banyak sekali kegagalan yang anda rasakan dan mungkin juga sebagian dari anda sudah sampai pada taraf ragu akan keyakinan anda sendiri untuk meraih apa yang anda inginkan. Mampukah saya? Berhasi...

MENOLAK LGBT

Di zaman ini praktek hubungan sejenis (homo) tidak dapat dilepaskan dari gerakan feminisme dan kesetaraan gender di Barat. Kelompok yang paling keras memperjuangkan hal ini adalah feminis radikal libertarian dan radikal.  Logikanya jika laki-laki berhak memperoleh kepuasan seksualnya sendiri tanpa memperdulikan kepuasan wanita, maka wanita pun berhak memperoleh kepuasan seksualnya tanpa laki-laki. Maka tak pelak lagi sejak 1970 Lesbianisme benar-benar muncul sebagai gerakan perempuan.  Jika kondisi para wanita di Barat demikian, maka tidak aneh jika kemudian laki-laki merespon. Kira-kira para lelaki disana akan sesumbar:"jika para wanita telah dapat memperoleh kepuasan seks mereka sendiri, maka kami pun dapat mendapatkan kepuasan seks kami sendiri". Itu semua merupakan embrio dari praktek dan prilaku homo alias hubungan sejenis alias lesbi dan gay.  Tapi argumen feminis tentang praktek homoseks ini membingungkan dan tidak normal. Para feminis sepakat bahw...